Ia menegaskan bahwa kebijakan ini tidak boleh hanya menjadi justifikasi untuk pemangkasan anggaran tanpa mempertimbangkan kualitas pelayanan publik.
“Sistem ini harus dievaluasi secara berkala untuk memastikan apakah benar-benar ada efisiensi atau justru malah menurunkan kualitas kerja,” tegasnya.
Lebih jauh, ia menyoroti potensi dampak negatif terhadap semangat kerja ASN. Tanpa mekanisme pengawasan yang ketat, WFA dikhawatirkan dapat mengurangi rasa tanggung jawab dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
“Sejauh mana efektivitas WFA bisa mendukung efisiensi? Jangan sampai kebijakan ini justru menimbulkan banyak kerugian, terutama dalam pelayanan publik,” ujarnya.
Secara pribadi, Yona menyatakan ketidaksetujuannya terhadap kebijakan WFA maupun Work From Home (WFH). Menurutnya, ASN seharusnya tetap bekerja di kantor untuk memastikan layanan publik berjalan optimal.












