Surabaya, CakrawalaNews.co | Persoalan data kependudukan yang belum diperbarui dinilai tidak cukup diselesaikan hanya dengan mengimbau masyarakat untuk datang dan memperbarui Kartu Keluarga (KK).
Anggota Komisi A DPRD Surabaya, Cahyo Siswo Utomo, mendorong Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Kota Surabaya membangun sistem pemutakhiran data yang lebih aktif, berkelanjutan, dan tidak sepenuhnya bergantung pada inisiatif warga.
Menurut Cahyo, ketika data kependudukan telah menjadi dasar berbagai pelayanan publik, persoalannya bukan lagi sekadar berapa banyak warga yang telah memiliki dokumen administrasi kependudukan.
Yang jauh lebih penting, kata dia, adalah memastikan seluruh informasi di dalam dokumen tersebut benar-benar akurat dan selalu mengikuti kondisi terbaru masyarakat.
“Menurut saya, persoalan ini jangan hanya diselesaikan dengan menghimbau masyarakat untuk memperbarui KK. Dispendukcapil juga harus membangun sistem pemutakhiran data yang lebih aktif dan berkelanjutan. Karena ketika data kependudukan sudah menjadi basis berbagai pelayanan publik, yang dibutuhkan bukan sekadar banyaknya warga yang memiliki dokumen, tetapi akurasi dan kemutakhiran isi datanya,” ujarnya pada Sabtu (5/9/2026).
Cahyo menilai Dispendukcapil perlu mulai melakukan pemetaan terhadap data-data kependudukan yang belum mutakhir maupun yang tidak konsisten.
Menurutnya, berbagai persoalan tersebut sebenarnya dapat diidentifikasi sejak awal, mulai dari warga usia produktif yang masih tercatat memiliki pendidikan SD atau SMP, anak yang belum memiliki Nomor Induk Kependudukan (NIK) maupun akta kelahiran, hingga warga yang telah meninggal dunia tetapi masih tercatat aktif dalam sistem.
Perubahan domisili yang belum dilaporkan juga menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian.
Dengan pemetaan tersebut, pemerintah bisa mengetahui secara lebih jelas wilayah mana yang memiliki persoalan data paling banyak, kelompok usia mana yang membutuhkan perhatian, serta jenis ketidaksesuaian data apa yang paling sering ditemukan.
“Jadi kita tahu persoalannya ada di kelurahan mana, kelompok usia mana, dan jenis data apa yang paling banyak belum diperbarui,” katanya.













