Surabaya, CakrawalaNews.co | Data di atas kertas belum tentu sama dengan kenyataan di lapangan. Persoalan inilah yang kembali mencuat setelah Anggota Komisi D DPRD Surabaya Imam Syafii menemukan anak dari keluarga dengan kondisi ekonomi sulit justru terancam kehilangan akses pendidikan karena persoalan desil.
Ironisnya, anak tersebut berasal dari keluarga yang kesulitan membiayai sekolah hingga akhirnya putus pendidikan. Namun, karena tercatat memiliki desil di atas 5, ia tidak masuk dalam kriteria penerima bantuan pendidikan untuk jenjang SMA sederajat.
Temuan itu menjadi alarm keras terhadap akurasi data kesejahteraan yang digunakan sebagai dasar penyaluran bantuan pendidikan di Kota Surabaya.
Imam menemukan persoalan tersebut saat turun langsung menemui sejumlah warga di kawasan Wonorejo IV, Tegalsari, Surabaya, Jumat (4/9/2026) malam.
Salah satu kasus yang ditemuinya dialami seorang anak dari keluarga single parent. Anak tersebut sebelumnya bersekolah di salah satu SMA swasta di Surabaya.
Namun, perjalanan pendidikannya terhenti sejak 2025. Saat duduk di kelas 2, anak tersebut terpaksa berhenti sekolah karena keluarganya tidak lagi mampu menanggung biaya pendidikan.
“Alamatnya Sekunting sebetulnya, Kupang Sekunting, kami ditemukan di sini (Wonorejo IV). Ya inilah persoalan yang masih menjadi PR besar Pak Wali Kota dan Pemerintah Kota Surabaya,” kata Imam, usai bertemu warga Wonorejo IV.
Persoalan semakin pelik karena kondisi ekonomi keluarga yang sulit ternyata tidak otomatis membuat anak tersebut masuk dalam kategori penerima bantuan pendidikan.
“Masih banyak ternyata anak-anak yang butuh sekolah karena biaya. Sementara ternyata desilnya di atas 5,” kata Imam.
Selama ini, bantuan pendidikan bagi siswa SMA sederajat menyasar keluarga yang masuk dalam kategori desil 1 hingga 5.













