Menurut Dhani, perubahan persepsi tersebut tidak lepas dari transformasi Surabaya yang kian modern. Jika 35 tahun lalu warga Surabaya masih kerap dilabeli sebagai “anak daerah”, kini Surabaya telah bertransformasi menjadi megapolitan yang disegani dengan identitas budaya yang kuat.
Ia menilai, keunikan karakter dan daya tarik lokal masyarakat Surabaya kini justru menjadi nilai tambah di tengah arus modernisasi.













