Pentolan Dewa 19 tersebut membandingkan sudut pandang masyarakat Jakarta terhadap warga Surabaya pada awal tahun 1990-an dengan kondisi masa kini.
“Dulu kalau ada perempuan Surabaya yang cantik tetapi logatnya Jawa, cowok-cowok Jakarta bisa mundur. Sekarang malah rebutan. Sekarang itu menjadi menarik,” ujar Dhani.
Menurut Dhani, perubahan persepsi tersebut tidak lepas dari transformasi Surabaya yang kian modern. Jika 35 tahun lalu warga Surabaya masih kerap dilabeli sebagai “anak daerah”, kini Surabaya telah bertransformasi menjadi megapolitan yang disegani dengan identitas budaya yang kuat.













