“Eskalasi konflik di media sosial bisa dengan cepat berubah menjadi tekanan sosial dan organisasi. Maka kehati-hatian dalam menyampaikan informasi itu penting,” ucapnya.
Ke depan, DPRD Surabaya berharap konflik di tingkat warga tidak lagi dijadikan konten media sosial, terutama yang berpotensi memanaskan situasi.
“Kalau mau dijadikan konten, bukan konfliknya, tapi solusi konstruktifnya,” tegas Saifuddin.
Ia juga mengajak masyarakat untuk memanfaatkan jalur legislatif jika menghadapi persoalan di tingkat bawah. Menurutnya, DPRD Kota Surabaya, khususnya Komisi A, membuka ruang selebar-lebarnya bagi warga untuk berdialog dan mencari solusi bersama.
“Kalau ada konflik, ayo duduk bersama. Kita panggil semua pihak, kita carikan solusi. Jangan sampai masalah kecil menjadi besar, yang besar semakin membesar,” pungkasnya.












