Perubahan Surabaya Barat memberikan gambaran penting mengenai tantangan tersebut. Kawasan yang dahulu memiliki karakter kampung dan permukiman kini berkembang berdampingan dengan pusat perdagangan, kawasan hunian, fasilitas publik dan jaringan jalan baru.
Perubahan itu tidak harus dipandang sebagai ancaman. Sebaliknya, perubahan merupakan bagian dari perkembangan kota. Namun, setiap perubahan membutuhkan kebijakan yang mampu mengelola dampaknya.
Misalnya, ketika pembangunan membuat nilai ekonomi kawasan meningkat, pemerintah perlu melihat apakah peningkatan tersebut juga diikuti peningkatan kapasitas ekonomi masyarakat.
Apakah usaha warga memperoleh akses terhadap pasar baru?
Apakah warga mendapatkan peluang pekerjaan dari pertumbuhan kawasan?
Apakah anak muda kampung memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan ekonomi baru?
Apakah usaha kecil memperoleh pendampingan untuk beradaptasi?
Dan ketika terjadi perubahan nilai objek pajak, apakah pemerintah memiliki komunikasi serta pendampingan yang memadai bagi warga yang kemampuan ekonominya tidak tumbuh secepat perubahan nilai kawasan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena warga tidak hidup dari nilai tanah semata. Mereka hidup dari pendapatan, pekerjaan, usaha dan kemampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena itu, kenaikan nilai aset tidak boleh secara otomatis dianggap sebagai kenaikan kesejahteraan.
Di sinilah konsep spending better dalam pembangunan daerah menjadi penting. Belanja infrastruktur tidak boleh hanya menghasilkan proyek yang selesai. Proyek harus menghasilkan akses. Akses harus menghasilkan peluang. Peluang harus dapat diakses masyarakat.
Dan peluang tersebut pada akhirnya harus menghasilkan peningkatan kesejahteraan. Logika yang sama seharusnya diterapkan dalam pembangunan kampung.
Kampung Pancasila tidak cukup menghasilkan kegiatan sosial. Kegiatan sosial harus memperkuat kohesi masyarakat. Kohesi harus memperkuat ketahanan sosial. Dan ketahanan sosial harus berjalan bersama ketahanan ekonomi. Sebab kampung yang kuat bukan hanya kampung yang bersih dan rukun.
Kampung yang kuat adalah kampung yang warganya memiliki kemampuan menghadapi perubahan. Jangan Sampai Kampung Hanya Menjadi Penonton.
Pembangunan Surabaya membutuhkan investasi. Dan pembangunan infrastruktur juga harus terus dilakukan.
Akan tetapi warga lokal jangan sampai hanya menjadi penonton dari pertumbuhan ekonomi di lingkungan mereka sendiri.
Ketika jalan baru membuka akses menuju pusat ekonomi, warga kampung seharusnya mempunyai kesempatan menjadi bagian dari pusat ekonomi tersebut.
Dimana warung lokal bisa berkembang. UMKM bisa masuk ke rantai pasok. golongan anak muda dapat memperoleh pekerjaan baru. Pelaku usaha dapat memperoleh akses pembiayaan dan pendampingan.
Dengan begitu, pembangunan infrastruktur tidak berhenti pada perubahan fisik kawasan, tetapi menghasilkan mobilitas sosial bagi masyarakat.
Inilah yang seharusnya menjadi salah satu ukuran keberhasilan pembangunan Surabaya.
Bukan sekadar apakah kawasan semakin ramai. Tetapi apakah warga semakin berdaya.
Bukan sekadar apakah harga tanah meningkat. Tetapi apakah pendapatan masyarakat ikut meningkat.
Bukan sekadar apakah PAD bertambah. Tetapi apakah pertambahan tersebut kembali dalam bentuk pelayanan publik dan peningkatan kualitas hidup.













