EditorialIndeks

Sumpah Pemuda di Tangan Gen Z: Bersatu di Tengah Dunia yang Terbelah

×

Sumpah Pemuda di Tangan Gen Z: Bersatu di Tengah Dunia yang Terbelah

Sebarkan artikel ini
Iluatrasi AI
Iluatrasi AI

Sembilan puluh delapan tahun silam, para pemuda Nusantara melampaui sekat-sekat suku, kedaerahan, dan bahasa untuk merajut satu cita-cita bernama Indonesia. Mereka menenun mimpi tentang satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Kini, Gen Z mewarisi cita-cita itu di dunia yang serba terhubung, tetapi tak selalu membuat manusia saling memahami.

Di tengah riuh linimasa yang tak pernah surut, perang komentar yang menguras energi, dan kecemasan menghadapi ketidakpastian masa depan. Sumpah Pemuda hadir bukan haya sebagai catatan usang di dalam buku sejarah. Namun, peringatan ini kembali menyodorkan sebuah pertanyaan mendasar yang menuntut kejujuran nurani: di tengah keragaman yang kian meruncing, masihkah kita bersedia berjalan bersama, meski tidak selalu sepemikiran?

Jika para pemuda 1928 berjuang melampaui sekat kedaerahan untuk membayangkan satu bangsa, Gen Z menghadapi pekerjaan yang berbeda: meruntuhkan sekat-sekat digital di tengah dunia yang semakin terhubung, tetapi belum tentu semakin saling memahami.

Dahulu, jarak dipisahkan oleh lautan, batas wilayah, dan perbedaan bahasa. Kini, jarak dapat diringkas menjadi satu sentuhan layar. Pesan melintasi kota dalam sekejap, peristiwa di belahan dunia lain hadir di telapak tangan, dan suara dari tempat yang jauh bisa terdengar lebih dekat daripada tetangga sendiri.

Namun, kedekatan itu menyimpan ironi. Kita bisa mengikuti kehidupan ribuan orang, tetapi belum tentu mengenal kegelisahan orang di sebelah kita. Kita dapat berbicara dengan siapa saja, tetapi sering kali hanya ingin mendengar mereka yang sependapat.

Di media sosial, sebuah potongan video dapat menyalakan kemarahan sebelum cerita utuh sempat dibaca. Perbedaan pilihan politik menjelma perang komentar. Seseorang bisa menjadi sasaran perundungan hanya karena menyampaikan pendapat yang tak disukai banyak orang. Informasi yang belum teruji berlari dari satu akun ke akun lain, sementara kebenaran kerap tertinggal untuk menjelaskan dirinya sendiri.

Linimasa pun sesekali menyerupai ruang gema: suara kita berulang kali dipantulkan oleh orang-orang yang berpikir serupa, hingga pendapat sendiri terasa seperti satu-satunya kebenaran. Di ruang semacam itu, perbedaan bukan lagi kesempatan untuk belajar, melainkan sesuatu yang buru-buru harus dikalahkan.

Padahal, persatuan tidak pernah mensyaratkan keseragaman. Kita tidak harus menyukai musik yang sama, memilih pemimpin yang sama, atau menyepakati setiap gagasan untuk tetap merasa menjadi bagian dari bangsa yang sama.

Justru ketika berhadapan dengan perbedaan, persatuan menemukan maknanya yang paling nyata.

Ketika Jemari Lebih Cepat daripada Pikiran

Gen Z tumbuh di tengah arus informasi yang tak pernah benar-benar surut. Mereka memiliki kesempatan luas untuk belajar, menyampaikan pendapat, dan membangun solidaritas.

Media sosial juga telah menjadi ruang bagi anak muda untuk menggalang bantuan bagi korban bencana, menyuarakan ketidakadilan, hingga mengangkat persoalan yang sebelumnya luput dari perhatian publik.

Tetapi teknologi hanyalah alat. Ia dapat menjadi jembatan, sekaligus tembok yang membuat manusia semakin jauh. Semua bergantung pada bagaimana kita menggunakannya.

Ketika sebuah informasi memancing amarah, misalnya, ada pilihan untuk langsung membagikannya atau berhenti sejenak memeriksa sumbernya. Ketika seseorang berbeda pendapat, ada pilihan untuk membantah argumennya atau menyerang pribadinya. Ketika sebuah persoalan menjadi viral, ada pilihan untuk ikut memperkeruh suasana atau membantu mencari duduk perkara.

Pilihan-pilihan kecil itu mungkin tidak terlihat heroik. Tidak semuanya menghasilkan ribuan tanda suka atau membuat sebuah nama bertengger di daftar topik populer. Namun, dari sanalah kebiasaan publik dibentuk.

Jangan sampai jemari bergerak lebih cepat daripada pikiran. Jangan pula membiarkan amarah yang sesaat meninggalkan luka yang panjang bagi orang lain.

Tentu, media sosial bukan semata-mata sumber perpecahan. Di ruang yang sama, anak muda dapat saling membantu tanpa terlebih dahulu bertanya tentang asal-usul, keyakinan, atau pilihan politik. Sebuah ajakan sederhana bisa menggerakkan bantuan, dan sebuah kesaksian dapat membuka mata publik terhadap persoalan yang selama ini tersembunyi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *