Karena itu, persoalannya bukan apakah Gen Z harus menjauhi dunia digital. Yang lebih penting adalah bagaimana mereka membuat ruang digital itu lebih manusiawi: tempat informasi diperiksa, kritik didengar, dan perbedaan tidak langsung diperlakukan sebagai permusuhan.
Mencintai Indonesia dengan Cara Kita
Setiap Oktober, Sumpah Pemuda kembali dibacakan. Kalimat-kalimatnya terdengar akrab, seolah telah menjadi bagian dari ingatan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Namun, sejarah tidak cukup hanya disimpan dalam hafalan. Ia membutuhkan kehidupan agar tidak berubah menjadi gema dari masa lalu.
Nasionalisme, misalnya, tak semestinya hanya diukur dari seberapa lantang seseorang menyanyikan lagu kebangsaan atau seberapa sering ia mengunggah pesan patriotik. Kecintaan kepada Indonesia juga terlihat dalam kesediaan menjaga ruang publik, menghormati sesama warga, memeriksa kebenaran informasi, dan mengawasi kebijakan yang menyangkut kehidupan bersama.
Mencintai tanah air bukan berarti harus selalu mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Terkadang, kecintaan justru tumbuh dari keberanian menunjukkan apa yang belum beres dan mendesak perbaikan.
Kritik terhadap kebijakan pemerintah tidak otomatis berarti menolak negara. Sebaliknya, kritik yang disampaikan dengan data dan niat memperbaiki dapat menjadi salah satu cara warga merawat kehidupan demokratis. Sebuah rumah tidak menjadi lebih baik karena penghuninya terus memuji dindingnya, melainkan karena mereka bersedia memperbaiki bagian yang retak.
Gen Z memiliki ruang luas untuk menjalankan peran tersebut. Mereka dapat mengangkat persoalan pendidikan, lingkungan, transportasi, pekerjaan, dan pelayanan publik. Mereka bisa memanfaatkan teknologi untuk mengumpulkan informasi, mempertemukan kepedulian, serta mengawal persoalan hingga memperoleh jawaban.
Namun, perhatian yang ramai belum tentu menghasilkan perubahan. Sebuah isu bisa memenuhi linimasa hari ini, lalu menghilang esok hari ketika perhatian beralih ke cerita lain. Sementara itu, masalah yang mendasarinya tetap tinggal bersama orang-orang yang terdampak.
Partisipasi yang matang menuntut lebih dari sekadar unggahan di media sosial. Kepedulian harus berlanjut menjadi tindakan nyata: terlibat dalam forum warga, menggerakkan komunitas, mengawasi jalannya kebijakan, hingga ikut bersuara menentukan arah kebijakan.
Di Surabaya, misalnya, semangat itu dapat dimulai dari persoalan yang dekat dengan keseharian: banjir yang mengganggu aktivitas warga, sampah yang menumpuk, akses pendidikan, transportasi publik, hingga kesempatan kerja bagi anak muda. Kota bukan hanya kumpulan gedung dan jalan. Ia adalah ruang hidup yang kualitasnya ditentukan oleh bagaimana orang-orang di dalamnya saling menjaga.
Perubahan tidak selalu datang dengan sorotan kamera. Kadang-kadang, ia dimulai dari sekelompok anak muda yang memilih membersihkan lingkungannya, mengumpulkan data tentang persoalan kampung, atau mendatangi ruang dialog untuk menyampaikan aspirasi. Tidak semua tindakan itu akan menjadi viral. Tetapi tidak semua hal penting harus menjadi viral.
Persatuan Juga Butuh Kesediaan Mendengar
Seruan kepada Gen Z untuk menjaga persatuan juga perlu disertai kesediaan untuk mendengarkan mereka.
Bagi banyak anak muda, masa depan bukan sekadar kata yang indah dalam pidato presiden, gubernur, atau wali kota. Ia berwujud dalam biaya pendidikan, persaingan mendapatkan pekerjaan, penghasilan yang cukup untuk hidup mandiri, dan kecemasan tentang apakah kerja keras hari ini akan membawa kehidupan yang lebih baik esok hari.
Ketika kesempatan terasa tidak merata, ajakan untuk mencintai bangsa bisa terdengar jauh dari kenyataan sehari-hari. Ketika anak muda hanya diundang untuk memeriahkan acara, tetapi tidak dilibatkan dalam keputusan, partisipasi berisiko menjadi panggung tanpa pengaruh.





