“Persiapan harus maksimal mulai dari titik genangan, titik sumbatan, dan juga operasi rumah pompa. Jangan sampai saat hujan datang, baru terlihat titik-titik lemah yang seharusnya bisa diantisipasi,” tambahnya.
Achmad mengapresiasi upaya Pemkot Surabaya yang menambah lima rumah pompa baru di wilayah selatan tahun ini. Namun, ia menekankan bahwa pembangunan fisik semata tidak cukup tanpa disertai dengan sistem perawatan, monitoring, dan edukasi publik yang efektif.
“Pembangunan rumah pompa baru itu langkah bagus. Tapi kalau kesadarannya belum tumbuh, dan pola koordinasinya masih parsial, ya tetap saja genangan akan muncul setiap tahun,” ujarnya.
Selain soal sampah besar, Achmad juga menyoroti masih adanya wilayah yang belum memiliki fasilitas pengendali air lengkap, seperti rumah pompa dan pintu air. Ia mendorong agar DSDABM menyiapkan roadmap perbaikan yang lebih sistematis dan berbasis prioritas risiko genangan.
“Kawasan seperti Tanjungsari, Margorejo, hingga Prapen itu sudah bertahun-tahun jadi langganan genangan. Ini bukan hanya soal pembangunan fisik, tapi soal manajemen sistem drainase yang harus lebih proaktif,” tegasnya.












