Juru bicara Fraksi Gerindra, Farid Kurniawan Aditama mengatakan memandang bahwa RPJMD adalah blueprint utama arah pembangunan lima tahunan, yang akan menentukan wajah Jawa Timur hingga 2029 dan menjadi landasan bagi capaian Indonesia Emas 2045. “Oleh karena itu, setiap misi, strategi, dan indikator dalam dokumen RPJMD harus benar-benar menjawab tantangan riil di lapangan, menjangkau masyarakat di seluruh pelosok daerah, dan menyentuh kebutuhan dasar rakyat secara langsung,” ujarnya.
Menurutnya Fraksi Partai Gerindra menyampaikan sejumlah catatan penting atas Raperda RPJMD Jawa Timur ini. Pertama, fraksi ini prihatin bahwa hingga tahun 2025, masih ada hampir 4 juta penduduk Jawa Timur hidup dalam kemiskinan, terutama di Madura, Probolinggo, Tuban, dan Ngawi. Ini menunjukkan bahwa pembangunan belum menyentuh wilayah-wilayah tertinggal. “Oleh karena itu, kami menekankan perlunya skema percepatan yang konkret dan terukur, serta kebijakan afirmatif untuk meningkatkan kualitas SDM dan layanan dasar. Selain itu, ketimpangan wilayah juga semakin tajam karena pertumbuhan ekonomi hanya terkonsentrasi di Gerbangkertasusila,” katanya.
Farid menambahkan dari sisi fiskal, target pertumbuhan PAD sebesar 1,87 persen yang dinilai terlalu rendah, mengingat kondisi ekonomi yang mulai membaik. Fraksi Gerindra meminta target PAD ditingkatkan hingga 5 hingga 7 persen, disertai strategi pemanfaatan potensi fiskal dan efisiensi belanja berbasis prioritas (Money Follow Program), agar anggaran tidak dibagi rata tanpa arah yang jelas.
“Kami juga menyoroti lemahnya tata kelola aset dan kinerja BUMD. Banyak aset daerah bernilai miliaran rupiah terbengkalai, dan sejumlah BUMD justru menjadi beban fiskal. Kami mendorong dibuatnya masterplan optimalisasi aset daerah serta evaluasi menyeluruh terhadap BUMD agar benar-benar berkontribusi bagi masyarakat, khususnya sektor UMKM,” katanya.












