Editorial

Menutup 2025, Menjemput 2026: Surabaya di Persimpangan Harapan

×

Menutup 2025, Menjemput 2026: Surabaya di Persimpangan Harapan

Sebarkan artikel ini
Taman Suroboyo
Taman Suroboyo

Akhir tahun selalu datang dengan dua wajah: refleksi dan resolusi. Di satu sisi, ia mengajak kita menengok ke belakang menghitung capaian, mengakui kekurangan, dan mencatat luka yang belum sembuh. Di sisi lain, ia membuka pintu harapan tentang kota yang ingin kita rawat bersama, dan masa depan yang ingin kita bangun dengan lebih jujur.

Surabaya, sepanjang 2025, bergerak cepat. Infrastruktur terus bertambah, layanan publik dipacu, dan narasi kota maju kerap digaungkan. Namun, laju tak selalu seirama dengan rasa keadilan. Di balik gedung yang tumbuh dan proyek yang dikejar waktu, masih ada cerita warga yang tertinggal: soal akses layanan dasar, persoalan permukiman, transportasi yang belum sepenuhnya manusiawi, hingga ruang-ruang kota yang kerap lebih ramah pada kepentingan proyek ketimbang kebutuhan sosial.

Kota ini juga diuji oleh soal tata kelola. Ketika data dipamerkan sebagai prestasi, publik berhak bertanya: apakah angka-angka itu sungguh mencerminkan kualitas hidup warga? Saat kunjungan wisata meningkat, apakah fungsi edukasi dan konservasi terjaga? Ketika pembangunan dikebut, apakah partisipasi warga benar-benar didengar, atau sekadar formalitas yang dilampaui?

Refleksi akhir tahun semestinya tak berhenti pada pujian atau kritik semata. Ia harus menjadi cermin jujur, bening, dan berani. Surabaya membutuhkan keberanian untuk mengakui bahwa pembangunan bukan sekadar fisik, dan kemajuan bukan hanya soal pertumbuhan. Kota yang kuat adalah kota yang merawat warganya, melindungi yang rentan, dan memberi ruang dialog yang setara.

Menjemput 2026, harapan itu masih terbuka lebar. Ada energi muda yang ingin dilibatkan, ada komunitas yang siap berkontribusi, ada warga yang ingin dilibatkan bukan sekadar menjadi objek kebijakan. Yang dibutuhkan adalah komitmen: transparansi yang konsisten, kebijakan berbasis kebutuhan riil, dan keberpihakan yang jelas pada kepentingan publik.

Cakrawalanews.co percaya, jurnalisme memiliki peran penting di persimpangan ini. Bukan sebagai penonton yang bertepuk tangan, bukan pula sebagai penggugat yang sekadar menunjuk kesalahan, melainkan sebagai pengingat: bahwa kota ini hidup karena warganya. Kritik adalah bentuk kepedulian, dan harapan adalah bahan bakar perubahan.

Tahun boleh berganti. Agenda boleh diperbarui. Namun satu hal tak boleh pudar: tekad untuk menjadikan Surabaya rumah yang adil, inklusif, dan manusiawi. Dengan refleksi yang jujur dan langkah yang berani, 2026 bukan sekadar angka ia adalah kesempatan baru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *