Menurutnya, yang dinilai dari penghargaan ini adalah bagaimana bisa menggerakkan kehidupan masyarakat secara bersama-sama, tentunya dengan model gotong royong di koperasi.
Saat ini, di Surabaya bisa dilihat ada yang namanya e-Peken, ada pula UMKM jahit yang mengerjakan seragam sekolah, dan itu digerakkan oleh UMKM yang ada di bawah naungan koperasi.
“Ini dilakukan untuk memberikan pekerjaan bagi MBR dan warga yang tidak memiliki pekerjaan, karena kita menargetkan setiap KK memiliki pendapatan minimal Rp 2,5 juta sampai Rp 3 juta. Itu kita bentuk koperasi dan itu menjadi salah satu penilaian dalam penghargaan ini,” tegasnya.
Adapun kunci sukses Kota Surabaya mendapatkan penghargaan ini adalah masyarakat Surabaya yang mempunyai jiwa toleransi yang tinggi dan mempunyai jiwa saling tolong-menolong yang tinggi, sehingga membangun Surabaya dengan kekuatan gotong royong itu.
Akhirnya, kalau melihat ada yang lemah, maka yang kuat membantu, dan itu dibuktikan dengan kekuatan bersama ketika menggerakkan ekonomi kerakyatan di Surabaya.












