Langkah tersebut dapat berjalan beriringan dengan penguatan sistem pemantauan.
Toni mengapresiasi rencana Pemkot Surabaya berkolaborasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta pakar geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk memasang sensor pemantau pergerakan tanah di sejumlah titik.
Pemkot Surabaya sebelumnya juga menyebut pemasangan sensor sebagai bagian dari upaya memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa.
Rencana awal pada 2026 mencakup pemasangan empat hingga lima unit seismograf di sejumlah lokasi.
Bagi Toni, teknologi pemantauan perlu berjalan bersama pengetahuan warga.
Sebab, keberadaan alat pemantau tidak otomatis membuat masyarakat siap menghadapi keadaan darurat apabila tidak dibarengi pemahaman mengenai risiko dan tindakan penyelamatan.
“Bagus ini, mengedukasi masyarakat agar terbangun kesadaran kolektif dalam menghadapi potensi kebencanaan,” ujar Toni.
Kesadaran tersebut juga perlu didukung kondisi lingkungan yang memungkinkan warga bergerak saat keadaan darurat.
Toni menyinggung kawasan dengan aktivitas publik tinggi, termasuk pusat perbelanjaan, sebagai salah satu ruang yang perlu diperhatikan.
Ia menilai kebijakan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi yang meminta pengelola mal menurunkan ketinggian pagar berkaitan dengan ruang keselamatan.













