Di sisi lain, Toni menilai meningkatnya pembahasan mengenai Sesar Surabaya dan Sesar Waru dapat menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran masyarakat terhadap kebencanaan.
Perbincangan soal sesar perlu berjalan beriringan dengan pemeriksaan infrastruktur dan bangunan yang digunakan untuk aktivitas publik.
“Bagus ini, mengedukasi masyarakat agar terbangun kesadaran kolektif dalam menghadapi potensi kebencanaan,” ujar Toni.
Ia juga mengapresiasi rencana Pemkot Surabaya berkolaborasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta ahli geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk memasang sensor pergerakan tanah di sejumlah titik.
Menurutnya, mitigasi juga perlu diperluas hingga tingkat lingkungan.
Edukasi kebencanaan dapat dilakukan sampai tingkat RT/RW, termasuk melalui Kampung Pancasila, sehingga kesiapsiagaan tidak hanya bergantung pada pemerintah ketika bencana terjadi.
“Isu sesar ini harus jadi pemantik agar budaya sadar bencana melekat pada keseharian kita. Ketahanan kota dibangun dari regulasi yang tegas, penegakan SLF yang disiplin, dan pengawasan fisik bangunan demi keselamatan masyarakat,” pungkas Toni. (*)













