“Tidak tahu kemana, ada beberapa masukan kebocoran air itu bisa dari pencurian, bisa dari pipa bocor, bisa juga dari yang lain-lain,” katanya.
Machmud menilai angka kehilangan air tersebut menjadi pekerjaan rumah penting bagi jajaran direksi PDAM Surya Sembada, terutama bagi direktur baru. Ia bahkan menantang agar tingkat kebocoran dapat ditekan hingga sekitar 15 persen.
“Tapi 36% atau Rp400 miliar itu setiap tahun air itu mengalir ke selokan, tidak berupa uang. Ini yang harus ditelusuri oleh direktur yang baru. Ini tantangan buat direktur yang baru, ukurannya di situ, kalau bisa tinggal 15% maka perusahaan itu akan menjadi baik,” tegas Politisi Demokrat ini
Menurut Machmud, kinerja PDAM Surya Sembada saat ini sudah tergolong baik, termasuk dalam pemenuhan dividen. Namun, ia menilai masih terdapat ruang besar untuk meningkatkan kinerja perusahaan daerah tersebut dengan menekan kehilangan air.
“Sekarang PDAM sudah baik, tetapi akan lebih baik lagi kalau misalnya kebocoran bisa ditekan. Dividend sudah dipenuhi, ya sudah dipenuhi, tetapi itu harus jauh lebih baik,” ujarnya.
Machmud juga menyoroti potensi pendapatan PDAM yang dinilai hilang akibat sejumlah kawasan perumahan elite mengelola kebutuhan air warganya secara mandiri.













