Surabaya, CakrawalaNews.co – Kasus dugaan perundungan terhadap anak penyandang disabilitas di wilayah Rungkut yang berujung pada kematian menjadi alarm serius bagi sistem perlindungan anak di Surabaya.
Ketua Komisi A DPRD Surabaya dari Fraksi Gerindra, Yona Bagus Widyatmoko, menilai kasus tersebut tidak bisa hanya dilihat sebagai persoalan kenakalan antaranak.
Menurutnya, ketika kekerasan terjadi berulang hingga menimbulkan korban jiwa, ada persoalan yang perlu dievaluasi mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, hingga sistem pengawasan pemerintah.
Ia menekankan bahwa pencegahan perundungan membutuhkan keterlibatan banyak pihak, terutama dalam mengenali perubahan perilaku anak sejak dini.
Yona menyoroti masih adanya kecenderungan orang dewasa menganggap tindakan tertentu sebagai hal yang wajar karena dilakukan anak-anak.
Padahal, perilaku intimidasi, merendahkan, maupun menyakiti anak lain tidak semestinya dibiarkan hanya karena dianggap sebagai candaan atau kenakalan sebaya.
“Orang tua juga jangan menormalisasi ketika anak itu melakukan aktivitas yang sebenarnya tidak layak dilakukan oleh seorang anak,” tegas calon Doktor disampaikan pada Senin, 19 Oktober 2026.
Menurutnya, perhatian terhadap persoalan anak harus dimulai dari lingkungan terdekat.
Relasi pertemanan dan kondisi keluarga menjadi dua aspek penting yang perlu diperhatikan ketika muncul perubahan perilaku, baik pada anak yang menjadi korban maupun anak yang berpotensi melakukan kekerasan.
Yona mengatakan, anak yang kurang memperoleh perhatian atau tumbuh dalam lingkungan penuh konflik dapat mengalami persoalan psikologis yang membutuhkan penanganan.
Namun, kondisi tersebut tidak boleh langsung dijadikan dasar untuk menyalahkan keluarga.
“Anak yang merasa terabaikan, tidak mendapatkan perhatian orang tua, bahkan tidak memperoleh dukungan dari kakak atau adiknya, bisa mengalami persoalan psikologis. Karena itu, masalahnya tidak semata-mata berada di sekolah, tetapi bisa berakar dari lingkungan keluarga,” ujarnya.













