Menurutnya, tradisi iuran seperti ini terjadi di seluruh Indonesia, bukan hanya di Surabaya.
“Fenomena ini kan tidak hanya terjadi di Surabaya, saya rasa dimanapun di belahan bumi Indonesia hal ini terjadi,” katanya.
Cak Yebe juga menyoroti sikap Pemkot Surabaya yang dinilai sekadar melarang tanpa memberi solusi. Ia mengingatkan, dana kas RT biasanya tidak cukup untuk membiayai perayaan.
“Memangnya sumber dana perayaan di kampung-kampung didapat darimana? Kas RT pastinya juga tidak akan mencukupi untuk mensuport kegiatan agustusan, pemkot jangan sekadar melarang tapi kasih solusi,” tuturnya.













