Tak berhenti pada tanaman hidroponik, Yona juga mengusulkan agar potensi lahan yang tersedia dimanfaatkan untuk mengembangkan sumber pangan lainnya. Salah satunya melalui budidaya ayam petelur.
“Lahan yang ada jangan hanya dimanfaatkan untuk hidroponik. Kalau masih memungkinkan, bisa dikembangkan untuk ternak ayam petelur sehingga ada diversifikasi usaha dan hasil yang bisa mendukung ketahanan pangan warga,” kata dia.
Diversifikasi tersebut dinilai penting agar sumber pangan warga tidak hanya bergantung pada satu jenis produksi.
Sayuran dari hidroponik dapat berjalan berdampingan dengan produksi telur maupun kegiatan pangan lainnya sesuai potensi lingkungan.
Yona mengatakan model yang dikembangkan warga di Sri Rejeki Jitu menunjukkan bahwa ketahanan pangan dapat dibangun dari lingkungan paling dekat dengan masyarakat.
“Yang kita dorong adalah bagaimana warga bisa mengelola potensi yang ada di lingkungannya sendiri. Dari hidroponik, pengolahan sampah, kemudian bisa berkembang ke peternakan dan kegiatan produktif lainnya,” tuturnya.
Ia berharap pengembangan urban farming tidak berhenti pada bantuan atau kegiatan sesaat.
Warga diharapkan mampu mengelola dan mengembangkan produksi pangan tersebut secara mandiri sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
“Harapannya, warga tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi bisa terus mengembangkan usaha ini secara mandiri. Kalau dikelola bersama dan konsisten, urban farming bisa menjadi kekuatan ekonomi sekaligus mendukung ketahanan pangan di tingkat kampung,” pungkas Cak Yebe. (*)













