“Sekolah itu penting, ketika anak-anak di sana, mereka harus sehat. Kita juga perlu melihat kebersihan, memastikan tidak ada debu, serta bagaimana cara memilah sampahnya,” katanya.
Antusiasme peserta juga terlihat dari jumlah pendaftar yang melampaui kuota awal. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya M. Fikser mengatakan, panitia semula hanya menyiapkan kuota 100 peserta.
“Kuota kita sebenarnya 100, tetapi karena antusiasme Bunda PAUD, kami tidak mungkin menutup atau menunda. Akhirnya kami terima 166,” kata Fikser.
Melihat tingginya minat tersebut, DLH Surabaya mempertimbangkan pola pelaksanaan yang berbeda pada tahun depan.
Salah satu opsi yang disiapkan adalah lomba berdasarkan wilayah sebelum peserta terbaik bertemu di tingkat kota.
“Melihat antusiasme Bunda PAUD ini perlu kami apresiasi. Ke depan mungkin dibuat per kelompok wilayah, beberapa kecamatan digabung, kemudian yang terbaik ditarik ke tingkat kota,” ujarnya.
Fikser mengatakan bahan yang digunakan dalam lomba juga tidak dibatasi pada jenis tertentu.
Peserta dapat memanfaatkan barang bekas yang mudah ditemukan di sekitar, termasuk plastik, kardus dan CD.
Guru dan pendamping dapat membantu menyiapkan konsep atau pola. Namun, anak tetap dilibatkan dalam proses pembuatan karya.
“Guru dan pendamping dapat membantu menyiapkan konsep atau pola, sementara anak-anak tetap terlibat dalam proses pembuatannya. Yang menempel-menempel itu anak-anak. Kalau melihat kreativitas anak-anak, ternyata luar biasa. Di luar pemikiran kita, hasilnya bagus-bagus,” pungkasnya. (*)













