“Ketika dia gagal, ketika dia salah, dia mau mencoba lagi. Harapan kami, proses ini menjadi pembelajaran bagaimana dia menjadi anak yang tegar dan mau berusaha,” ujarnya.
Dari proses itu, anak juga belajar bekerja sama, mencari jalan keluar ketika menghadapi masalah, membangun kepercayaan diri, dan tidak mudah menyerah.
Kreativitas tidak cuma muncul dari anak.
Guru dan orang tua turut memanfaatkan barang bekas untuk membuat berbagai media permainan yang bisa digunakan dalam kegiatan belajar.
“Kreativitas guru dan orang tua dalam memanfaatkan barang bekas juga mendapat apresiasi. Sejumlah karya yang dihasilkan tidak sekadar menjadi pajangan, tetapi dapat digunakan sebagai alat permainan sekaligus media pembelajaran,” jelasnya.
Beberapa karya digunakan untuk mengenalkan warna, permainan memasukkan bola, hingga kendaraan berbahan kardus yang dapat dimainkan anak.
“Tidak harus membeli bahan yang baru. Dengan bahan yang ada, itu bisa menjadi proses pembelajaran buat anak-anak,” kata dia.
Menurut Rini, penggunaan barang bekas sebagai bahan permainan juga bisa menjadi pilihan aktivitas anak di tengah kebiasaan menggunakan gawai.
“Bisa mengalihkan gadget juga, jadi tidak bermain gadget tetapi bermain dengan sesuatu yang ramah lingkungan,” terangnya.
Ke depan, Rini berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada pelaksanaan tahun ini.
Jumlah peserta dan kategori lomba diharapkan dapat diperluas. Ia juga mengusulkan agar kebersihan lingkungan satuan PAUD ikut menjadi bagian penilaian.













