“Dukungan dari perguruan tinggi, pemerintah, dan industri diharapkan dapat terus bersinergi dalam menyediakan ‘kolam’ pasar yang luas bagi para wirausahawan baru,” tuturnya.
Dalam kegiatan tersebut, dua startup mahasiswa ITS binaan Inkubator Layanan Bisnis Inovatif (ILBI) ITS turut mempresentasikan model bisnis dan produk mereka melalui sesi pitching.
Salah satunya adalah Vityuu yang menawarkan produk herbal berbentuk sweet block spray.
Produk berbahan dasar Gymnema Sylvestre tersebut dikembangkan sebagai solusi untuk membantu mengendalikan konsumsi gula.
Startup yang dikembangkan tiga mahasiswa Departemen Manajemen Bisnis ITS, Muhammad Nadhif Ikmalsyah, Kevin Ananta Marga, dan Naila Zanuba Mustikaningrum itu juga mengembangkan ekosistem kesehatan terintegrasi untuk mendukung proses diet gula.
Startup lainnya, IncludeVision, membawa solusi berbasis kecerdasan buatan atau AI untuk sektor industri.
Dikembangkan Singgih Ardiansyah dari Departemen Teknik Komputer dan Raul Ilma Rajasa dari Departemen Teknik Informatika, platform tersebut mampu mengolah rekaman CCTV menjadi data dan wawasan yang dapat digunakan untuk mendukung pengelolaan fasilitas.
Solusi tersebut diklaim mampu meningkatkan efisiensi biaya operasional hingga 60 persen.
Tak hanya memamerkan inovasi, Bursa Wirausaha Unggulan Jawa Timur 2026 juga menghadirkan empat layanan utama bagi peserta, yakni pembiayaan, perizinan usaha, akses pasar digital, dan inkubator.
Pemerintah berharap fasilitas tersebut dapat memangkas jarak antara ide, inovasi, dan bisnis yang benar-benar mandiri.
Kolaborasi ITS dan Kementerian UMKM ini sekaligus diarahkan untuk mendukung sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pengentasan kemiskinan, penciptaan pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, serta penguatan industri, inovasi, dan infrastruktur. (*)













