Langkah tersebut diarahkan untuk memastikan program pembinaan UMKM dapat dipantau dan dievaluasi secara terukur.
Tak hanya soal pembinaan, pemerintah juga menyoroti pentingnya keberpihakan terhadap produk lokal melalui penguatan pasar dalam negeri.
“Perlindungan pasar domestik juga kami perketat agar produk lokal dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” imbuh Maman.
ITS Siapkan Teknologi untuk Dorong UMKM Naik Kelas
Sementara itu, Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MScEng PhD mengatakan Jawa Timur memiliki posisi penting dalam menggerakkan perekonomian nasional.
Dengan jutaan unit usaha dan koperasi, Jawa Timur dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu penggerak ekonomi Indonesia.
Dalam ekosistem tersebut, ITS mengambil peran melalui penguatan teknologi, inovasi, produktivitas, hingga daya saing pelaku usaha.
Kolaborasi dengan pemerintah pun telah dilakukan melalui sejumlah program, mulai dari One Pesantren One Product (OPOP), penyediaan desain kemasan gratis, hingga pembekalan keterampilan kewirausahaan kepada ribuan pelajar.
“Beberapa di antaranya One Pesantren One Product (OPOP), penyediaan desain kemasan gratis, hingga pembekalan ribuan pelajar dengan keterampilan wirausaha,” papar Bambang.
Di bawah Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains Teknologi (DIKST), ITS juga secara rutin membina puluhan startup setiap tahun.
Potensi tersebut kemudian membuka ruang bagi pemerintah untuk memperkuat kerja sama dengan ITS, khususnya dalam mendorong UMKM yang memanfaatkan teknologi tinggi.
Bambang memastikan ITS siap menjadi bagian dari upaya pemerintah menjadikan UMKM bukan sekadar sektor ekonomi pelengkap, tetapi salah satu fondasi kemandirian ekonomi.













