Fikser berharap dukungan tersebut dapat menjadi penyemangat bagi para seniman yang telah menjalani persiapan intensif selama beberapa bulan terakhir. “Pemerintah kota, Pak Wali Kota, sangat konsisten terhadap budaya daerah. Mudah-mudahan niat baik, kerja keras, bagaimana perhatian dan kesiapan dari tim yang luar biasa bisa membawa nama baik Surabaya pada festival kali ini,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa sekitar 57 unit Reog yang ada di Surabaya tergabung dalam Purbaya. Menurutnya, organisasi tersebut memiliki peran penting dalam menjaga dan mengembangkan kesenian Reog di Kota Pahlawan. “Kami pemerintah kota terima kasih kepada tokoh Reog yang ada di Surabaya yang kemudian mewadahi kegiatan ini,” katanya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya, Pemkot Surabaya juga berencana memfasilitasi kebutuhan latihan bagi para seniman Reog Purbaya. “Tadi saya juga bicara dengan Pak Camat, kita akan memfasilitasi di gedung serbaguna milik pemerintah kota di MERR, yang mana itu bisa dipakai secara rutin untuk pelatihan,” ungkap Fikser.
Ia menambahkan, Reog selama ini selalu mendapat ruang dalam berbagai kegiatan resmi Pemkot Surabaya. Upaya ini sebagai komitmen dalam menjaga keberlangsungan seni tradisional tersebut. “Jadi pemerintah kota di setiap acara apapun itu, Reog selalu menjadi tampilan seni utama, yang kemudian diberikan kesempatan untuk Reog itu bisa dimunculkan,” katanya.
Sementara itu, Pembina sekaligus Penasehat Purbaya, Heru Sancoko, menegaskan FNRP merupakan kompetisi bergengsi karena memperebutkan Piala Presiden. “Jadi ini adalah event dari Ponorogo (memperebutkan) Piala Presiden, bukan Piala Bupati, bukan Piala Wali Kota. Jadi yang kita perebutkan ini adalah Piala Presiden,” kata Abah Heru, sapaan lekatnya.












