“Kita buat titik baru reklame, tapi titik itu bersifat eksklusif. Jadi dibedakan antara jalan utama dan bukan jalan utama. Modelnya neon box, terang, tapi listriknya bukan kita yang bayar. Kota justru dapat pendapatan,” jelasnya.
Eri menegaskan, langkah ini merupakan bagian dari inovasi fiskal untuk menjaga stabilitas keuangan daerah di tengah pemangkasan TKD yang sebelumnya dialokasikan untuk ASN di lingkungan Pemkot.
Dari total kebutuhan sekitar Rp1,3 triliun, Pemkot baru mampu menutup sekitar Rp600 miliar melalui efisiensi dan penyesuaian anggaran.
“Karena ada pemotongan TKD, maka kita harus berinovasi. Salah satunya lewat reklame dan optimalisasi aset. Insyaallah bisa,” tegasnya.













