“Maka diharapkan akan ada lompatan terkait pengembangan transportasi publik di Surabaya. Saat ini mode share penggunaan transportasi publik di Surabaya baru 1% dari total seluruh mobilitas orang. Sedangkan di Semarang tahun lalu sudah 7%. Kota-kota di dunia bahkan sudah 30-60%.” bebernya.
Selain itu, kata Eri, Dinas Perhubungan harus lebih kreatif untuk mengoptimalkan pendapatan non tiket. Selama ini pendapatan Surabaya bus dan wira wiri hanya dari tiket, tetapi dari non tiket masih belum ada.
“Di Jakarta dan Semarang itu sudah non tiket semua yang diandalkan, mulai untuk dalam bentuk iklan. Sehingga bisa memberi pemasukan bagi kota dan uangnya untuk pengembangan transportasi lebih secara lebih lanjut,” pungkasnya.(ADV)












