Selain masalah APAR, kerusakan 14 monitor CCTV di Command Center juga menjadi perhatian serius Komisi A. Monitor tersebut seharusnya berfungsi untuk memantau kondisi keamanan di berbagai titik di Kota Surabaya selama 24 jam. Namun, sejumlah layar mati, mengganggu pemantauan secara menyeluruh.
“Ternyata ada beberapa monitor yang rusak dan tidak segera diperbaiki. Ini berpotensi menghambat fungsi Command Center sebagai objek vital yang berkaitan dengan keamanan warga Surabaya,” kata Tubagus Lukman Amin, anggota Komisi A DPRD Surabaya.
Selain kerusakan peralatan, kondisi pendingin udara di ruangan Command Center juga disoroti. Menurut Tubagus, sistem pendingin yang ada saat ini tidak memadai untuk menjaga suhu ruangan tetap sejuk. “Ruangan panas dapat meningkatkan risiko korsleting, terutama di ruangan yang penuh dengan perangkat elektronik. Seharusnya, ada exhaust untuk menjaga sirkulasi udara dan mencegah panas berlebih,” ujarnya.
Tak hanya soal peralatan, anggota Komisi A lainnya, Pdt. Rio Pattiselano, menyoroti sistem pelayanan Command Center 112 yang dianggap kurang responsif. Menurut Rio, proses panggilan darurat yang diterima melalui nomor 112 kerap membutuhkan waktu lama untuk ditindaklanjuti, meskipun BPBD mengklaim respons time hanya 7 menit setelah telepon diangkat.











