Untuk diketahui, keberadaan Situs Buton telah lama diteliti oleh para ahli purbakala mulai tahun 1920-an. Walaupun sempat terhenti, namun sejak ditemukannya kembali fosil-fosil kayu (2013), fosil Batu Akik (2014), fosil-fosil hewan (2015), dan fosil bagian manusia purba tersebut pada 2017 lalu, maka para peneliti sejarah kembali datang ke Buton pada 2019.
Kala itu, tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta yang dipimpin Prof. Gunardi, melakukan riset selama 2 minggu (14 Juli – 2 Agustus 2019). Mereka memperkirakan bahwa fosil fauna/hewan yang ditemukan oleh warga Galuh Timur dan sekitarnya adalah fosil tertua di Pulau Jawa yang berumur lebih dari 2 juta tahun.
Kemudian dari validasi perkiraan usia fosil fauna tersebut, manusia purba yang hidup saat itu (homo erectus arkaik), usianya lebih tua lagi dari faunanya itu.
Perkiraan itu juga diperkuat lagi dari link fosil-fosil yang ditemukan di wilayah Kabupaten Tegal, yakni di Situs Semedo, Desa Semedo, Kecamatan Kedungbanteng.
Awalnya, warga Galuh Timur menyimpan fosil-fosil yang ditemukan di rumah masing-masing. Kemudian dengan adanya Pokdarwis Kampoeng Poerba maka dibangunlah sebuah rumah kecil yang kemudian diberi nama Museum Mini Kampoeng Poerba untuk menampung fosil-fosil itu.
Masyarakat Galuh Timur dan sekitarnya tidak memperjual belikan fosil. Mereka dengan sukarela dan kesadaran menyerahkannya ke Pokdarwis Kampoeng Poerba untuk disimpan di museum mini itu sebagai edukasi sejarah bagi seluruh umat manusia. (Tgh)



