Terkait lapangan kerja, Eri bakal terus mempertahankan Surabaya sebagai kota ramah bisnis, dengan warga lokal sebagai sasaran utama agar terserap lapangan kerja. Salah satu caranya, kerja sama dengan dunia usaha untuk menyerap 50 persen tenaga kerja lokal.
“Saya saat menjadi Kepala Bappeko, sudah menandatangani MoU yang berisi karyawan di tiap perusahaan baru, minimal 50 persen ber-KTP Surabaya. Jadi nantinya, perizinan tersebut harus mencantumkan nama-nama karyawannya. Dan nama-nama tersebut nantinya kita masukkan ke database pemerintah kota,” kata Eri.
Untuk mewujudkan program itu, Eri menyiapkan sertifikasi keahlian gratis bagi warga. Misalnya, ada perusahaan akan berdiri dan membutuhkan ahli teknologi informasi, maka Pemkot Surabaya menyiapkan sertifikasi bidang TI untuk warga secara gratis agar bisa terserap ke perusahaan anyar itu.
“Jadi ini win-win solution. Warga berdaya saing dan bisa terserap dunia kerja, di sisi lain investor mudah mendapatkan talenta terbaik warga Surabaya,” paparnya.
Eri menambahkan, UMKM juga bakal jadi fokus untuk pemulihan ekonomi. “Kami ada program 30.000 UMKM naik kelas per tahun. Kami sudah rancang indikator UMKM naik kelas. Kami akan membawa UMKM bangkit dari pandemi melalui pendampingan, pelatihan, akses modal bersubsidi, fasilitasi pemasaran, branding, dan sebagainya,” ujar Eri.
Eri memastikan, ke depan, UMKM akan menjadi kekuatan ekonomi rakyat. “Termasuk riset pasarnya kami fasilitasi, sehingga UMKM tahu harus produksi barang apa yang bisa mudah diterima konsumen,” jelasnya.












