Latar belakangnya sebagai dokter Unit Gawat Darurat membuatnya menaruh perhatian pada kesiapan fasilitas emergensi.
“Tabung oksigennya ternyata enggak ada isinya, tuh. Jadi, kalau seperti itu, itu yang paling berbahaya, bagaimana menerima pasien malam hari, kemudian ada sesak, mau diberikan oksigen, oksigennya habis,” tegasnya.
Karena itu, Michael menyebut setidaknya ada empat skala prioritas yang harus menjadi acuan dalam pengalokasian anggaran perbaikan Puskesmas.
Prioritas pertama adalah bangunan yang berpotensi membahayakan pasien, termasuk plafon atau bagian konstruksi yang berisiko mencelakai masyarakat.
Prioritas kedua yakni Puskesmas dengan tingkat kerusakan berat.
Selanjutnya, Pemkot perlu memprioritaskan Puskesmas yang membutuhkan rehabilitasi ruangan, termasuk fasilitas sanitasi, ruang rawat inap, rawat jalan maupun fasilitas publik lainnya.
“Kalau rehabilitasi ruangan, ada pelayanan sanitasi, dan lain sebagainya, itu harus diperhatikan. Kalau memang ini mau dipakai untuk kebutuhan rehabilitasi ruangan dan ini ruangan untuk rawat inap, rawat jalan, ataukah dipakai untuk fasilitas publik?” jelasnya.
Sementara prioritas keempat berkaitan dengan estetika bangunan.
Michael menilai pembenahan visual tetap penting, terutama bagi Puskesmas yang memiliki karakter bangunan atau lokasi tertentu.
Namun, estetika menurutnya harus ditempatkan setelah aspek keselamatan dan kelayakan pelayanan terpenuhi.
Yang menjadi perhatian utama Komisi D saat pembahasan APBD 2027 adalah memastikan kecukupan anggaran.
Michael mempertanyakan apakah Pemkot telah menyiapkan tambahan anggaran untuk merealisasikan seluruh rencana perbaikan tersebut.
“Apakah Pemkot 2027 siap dengan penambahan anggaran perbaikan di puskesmas-puskesmas? Sehingga apa yang dikatakan Pak Wali di medsos itu bisa terlaksana,” katanya.













