“Kalau sampai RTH, DLH itu menarik biaya, ini menjadi catatan kami. Namanya pembuangan sampah masyarakat di saat ruwah itu kan juga bantuan. Terus dibebankan ini kan juga kasihan,” katanya.
Ia menegaskan pihaknya akan menelusuri kebenaran informasi tersebut sebelum mengambil langkah lebih lanjut.
“Ini menjadi catatan yang nanti akan kita sampaikan, benar atau tidaknya. Dan itu menjadi tugas kami,” tegas Budi.
Sementara itu, warga juga menyampaikan aspirasi agar program bantuan sarana bagi kelompok masyarakat kembali diperhatikan.
Salah satunya menyangkut kebutuhan ibu-ibu pengajian yang selama ini menjadi bagian dari aktivitas sosial masyarakat.
Budi menyebut pada periode sebelumnya pernah terdapat bantuan berupa seragam, perlengkapan hadrah, terop, hingga fasilitas pendukung kegiatan masyarakat lainnya.
“Contoh peralatan seperti seragam. Dulu waktu periode saya, 2014, itu ada hibah. Seragam, alat-alat hadrah, perlengkapan, terop dan lain-lain itu ada. Harapannya dari warga masyarakat itu semoga bisa kembali ada,” ungkapnya.
Menurut Budi, kelompok pengajian juga merupakan bagian dari komunitas masyarakat yang menjalankan aktivitas sosial.
Karena itu, ia berharap terdapat skema program yang dapat memfasilitasi kebutuhan mereka sepanjang sesuai dengan aturan yang berlaku.
Ia mencontohkan kebutuhan seperti seragam, sound system hingga alat hadrah yang selama ini menjadi aspirasi warga.
“Harapannya mendapatkan bantuan. Seperti seragam, perlengkapan pengajian, sound system dan lain-lain. Ini mereka berharap, termasuk sarana seperti alat-alat hadrah. Nah, ini berharap ada program itu kembali,” pungkasnya. (*)













