Hebi menyebut masih terdapat sejumlah persoalan yang membuat produk IKM belum siap masuk pasar ekspor.
Di antaranya pemahaman mengenai standar produk, kemasan, informasi nilai gizi serta sertifikasi halal.
“Rata-rata mereka belum diarahkan melalui coaching clinic seperti ini, misal makanan krispi yang bentuknya bulat, tapi tebal tipisnya nggak sama ini kadang mereka (pembeli) tidak mau. Kemudian ada warnanya yang nggak sama itu juga nggak mau, lalu kemasannya juga harus ada double close. Selain itu, juga sertifikasi hala kadang industri kecil menengah ini mereka tidak punya dana untuk sertifikasi, nah kita carikan sertifikasi halal yang murah bahkan gratis, karena mereka perlu,” paparnya.
Pemkot Surabaya berharap pendampingan tersebut tidak hanya membuka peluang pemasaran produk IKM ke luar negeri, tetapi juga mendorong pertumbuhan usaha dan penyerapan tenaga kerja di dalam kota.
“Kalau industri kecil menengah itu tumbuh, maka mereka akan membutuhkan tenaga kerja. Tujuan akhirnya adalah tenaga kerja Kota Surabaya ini bisa bekerja di industri kecil menengah itu,” harapnya.
Sementara itu, Guru Besar Departemen Teknik Sistem dan Industri (DTSI) ITS Prof. Maria Anityasari mengatakan, ITS turut melibatkan ratusan mahasiswa dalam pendampingan langsung kepada pelaku usaha.
Mahasiswa semester satu diarahkan membantu penyusunan company profile, visi-misi usaha, katalog hingga video promosi singkat berdurasi tiga menit.
Sementara mahasiswa semester lima mendampingi efisiensi produksi, penentuan harga pokok penjualan (HPP) dan teknik negosiasi bisnis.
“Para mahasiswa diterjunkan sesuai dengan kelompok industri peserta, seperti pangan, fashion, atau home decor. Pendampingan yang spesifik ini diharapkan mampu memberikan solusi konkret bagi setiap tantangan yang dihadapi IKM,” pungkasnya. (*)













