Menurutnya, kolaborasi juga menjadi jembatan agar temuan ilmiah dan kebutuhan industri dapat saling bertemu.
“Industri dapat membawa perspektif mengenai kebutuhan dan konteks aplikasi, sementara peneliti membawa kedalaman scientific knowledge. Pertemuan keduanya dapat membuka pertanyaan dan kemungkinan baru yang sebelumnya mungkin belum terlihat dari satu perspektif saja,” ujarnya pada Kamis, 17 September 2026.
Pada tahap awal, penelitian mencakup pengembangan biomassa mikroalga, ekstraksi senyawa aktif, hingga evaluasi untuk mencari kandidat yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku industri kosmetik.
Hasil penelitian nantinya menjadi dasar untuk menentukan tahapan pengembangan berikutnya, termasuk karakterisasi senyawa dan evaluasi potensi aplikasinya.
Artinya, proses hilirisasi tidak langsung diarahkan pada pembuatan produk, tetapi dimulai dari temuan dan validasi ilmiah.
Kepala Pusat Riset Mikrobiologi Terapan BRIN Dr. Ahmad Fathoni, M.Eng, menjelaskan kolaborasi dengan industri dapat memberi konteks baru bagi pengembangan hasil penelitian menuju kemungkinan penerapan yang lebih luas.










