Bahkan, beberapa waktu terakhir muncul busa yang diduga berasal dari limbah di aliran Kali Surabaya.
PJT I sendiri memiliki alat untuk memantau kondisi air. Alat tersebut bekerja setiap satu jam dan bisa menunjukkan tingkat pencemaran.
“Jadi Jasa Tirta itu kita punya alat monitoring, ya. Monitoring itu setiap 1 jam. Yang keluar itu adalah tercemar berat, tercemar ringan, tercemar sedang. Nah, untuk detailnya dia tercemarnya akibat apa, itu harus diambil sampel. Sampel airnya diambil, kita uji di laboratorium, gitu,” katanya.
Milfan mengatakan hasil pemantauan selama ini menunjukkan Kali Surabaya memang berada dalam kategori tercemar berat.
“Seperti yang saya bilang, alat alat yang real-time itu yang keluar itu adalah tercemar berat, tercemar ringan, tercemar sedang. Nah, selama ini memang kondisinya tercemar berat. Jadi, kalau kita melihat data itu, ya memang tercemar berat gitu,” ujarnya.
Meski begitu, PJT I tetap melakukan langkah darurat ketika kondisi sungai berpotensi memengaruhi intake PDAM.
Salah satunya dengan menggelontorkan air dari Mlirip. Tujuannya untuk mengencerkan zat pencemar di aliran sungai.
Air yang dilepas mencapai 25 meter kubik per detik selama dua hari.
“Nah, jadi kita kan di bawah di bawah situ kan ada beberapa intake milik Surya Sembada, PDAM Surya Sembada. Koordinasi, yang bisa kita lakukan adalah kita melakukan penggelontoran. Pengenceran air. Jadi kita lepas dari atas tuh dari Mlirip ya. Dari Mlirip 25 m³/detik selama 2 hari. Sehingga dengan demikian airnya menjadi bagus,” jelas Milfan.













