Pada sapi betina, Brucellosis dapat ditandai dengan keguguran, ari-ari yang tidak segera keluar setelah proses kelahiran, hingga kelahiran pedet dalam kondisi lemah atau mati. Penyakit ini juga dapat menyebabkan gangguan kesuburan dan kawin berulang.
Sementara pada sapi jantan, Brucellosis berpotensi menimbulkan gangguan pada testis serta menurunkan kualitas semen.
Namun, persoalan terbesar dalam mendeteksi penyakit tersebut adalah tidak semua sapi yang terinfeksi memperlihatkan tanda-tanda penyakit secara kasatmata.
Sapi yang terlihat sehat tetap berpotensi membawa penyakit.
Karena itu, pemeriksaan klinis tidak cukup menjadi satu-satunya dasar untuk memastikan kondisi kesehatan ternak. Pengujian laboratorium diperlukan untuk mendeteksi kemungkinan adanya Brucellosis, khususnya pada hewan yang akan dilalulintaskan antarwilayah.
Hasil pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan hasil negatif menjadi salah satu indikator penting untuk memastikan ternak tidak membawa penyakit tersebut.




