Cakrawala PendidikanCakrawala Surabaya

Dari Dongeng hingga Komik, Cara Disperpusip Surabaya Bikin Anak Tak Jenuh Membaca

×

Dari Dongeng hingga Komik, Cara Disperpusip Surabaya Bikin Anak Tak Jenuh Membaca

Sebarkan artikel ini
Kepala Disperpusip Kota Surabaya Yusuf Masruh.
Kepala Disperpusip Kota Surabaya Yusuf Masruh.

Tak berhenti pada aktivitas membaca, Disperpusip Surabaya juga ingin mendorong anak-anak untuk berani menghasilkan karya. Menurut Yusuf, budaya literasi idealnya tidak hanya membuat anak gemar membaca, tetapi juga terbiasa menulis.

Ia melihat pelajar, khususnya tingkat SMP, sudah memiliki kemampuan untuk mulai menuangkan pengalaman maupun gagasan mereka dalam bentuk tulisan.

“Mulai nulis, jadi SMP itu kan sudah bagus bisa nulis ya, cerita-cerita gitu. Misalnya nanti literasi itu betul-betul membaca dan menulis itu bisa menjadi apa ya, habit anak-anak gitu,” katanya.

Karena itu, ke depan karya anak-anak dapat diarahkan dalam bentuk yang ringan dan dekat dengan keseharian mereka. Mulai dari cerpen, puisi, hingga komik yang mengangkat pengalaman maupun cerita inspiratif.

“Iya, menulis buku, bisa cerpen, bisa puisi. Kan yang ringan-ringan, ya ya itu, yang menyenangkanlah untuk anak-anak itu. Kayak komik misalnya, kan cerita pengalaman yang memotivasi misalnya,” ungkapnya.

Bagi Yusuf, pendekatan tersebut penting agar literasi tidak hadir sebagai aktivitas akademis yang kaku. Anak justru perlu diberi ruang untuk bercerita melalui medium yang mereka sukai.
Dengan demikian, budaya membaca dan menulis diharapkan tumbuh secara alami.

Anak bukan hanya menjadi pembaca, tetapi juga mampu menjadi pencipta cerita dan karya yang merekam pengalaman serta gagasan mereka sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *