Selain membangun budaya membaca dari rumah, Disperpusip Surabaya juga mengembangkan akses literasi melalui perpustakaan digital.
Pengembangan tersebut diarahkan untuk terintegrasi dengan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi, Kejaksaan, hingga sekolah tingkat SD dan SMP.
Yusuf berharap keberadaan koleksi digital dapat menjawab kebiasaan anak-anak yang kini semakin dekat dengan perangkat teknologi.
“Yang berikutnya juga kita ini pengembangan apa ini perpusatakaan digital integrasi sama perguruan tinggi, sama teman-teman ada Kejaksaan. Itu harapan kami, termasuk SD SMP, nanti itu banyak koleksi-koleksi yang nanti anak-anak itu, kan sekarang digital ya, gak ke mana-mana gitu lho,” tuturnya.
Namun, menurut Yusuf, akses terhadap buku juga harus dibuat beragam agar anak tidak cepat bosan. Karena itu, Disperpusip Surabaya terus mengoptimalkan layanan mobil perpustakaan keliling yang menyasar sekolah, taman, hingga komunitas pegiat literasi.
Ia mengibaratkan aktivitas membaca seperti makanan yang dikonsumsi setiap hari.
Jika menu yang disajikan selalu sama, anak akan mudah merasa jenuh.
“Terus juga ini kita masifkan kayak mobil keliling. Anak itu kan di perpus yang namanya literasi itu kadang yang ilmu itu kan ndak ada baru ndak ada lama ya. Tapi minimal kalau yang dibaca itu aja kan jenuh. Kayak tiap hari kita itu misalnya maem mi ya jenuh kan. Harus ganti-ganti,” jelas Yusuf.





