Nilai tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan pendanaan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur strategis di Kota Surabaya.
Di sisi lain, pembiayaan dengan nilai besar perlu diikuti pengawasan terhadap pelaksanaan proyek, target penyelesaian, kualitas pekerjaan, serta manfaat yang diterima masyarakat.
PT SMI menyebut proyek tersebut juga mendukung Prioritas Nasional 2 dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.
Program itu dikaitkan dengan upaya memperkuat kemandirian bangsa melalui swasembada energi. Pembiayaan juga disebut mendukung sasaran pembangunan Jawa Timur dalam meningkatkan ketangguhan Surabaya menghadapi banjir.
Hingga Juni 2026, PT SMI mencatat total komitmen pembiayaan daerah diseluruh indonesia sebesar Rp37,41 triliun. Sementara outstanding pembiayaan mencapai Rp13,67 triliun.
Bagi Surabaya, pembiayaan tersebut memberikan ruang fiskal tambahan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur yang membutuhkan anggaran besar.
Namun, keberhasilan pembiayaan tidak hanya diukur dari tersedianya dana atau selesainya proyek.
Dampak terhadap masyarakat menjadi ukuran penting. Penurunan titik genangan, peningkatan kualitas penerangan jalan, kelancaran mobilitas, serta manfaat ekonomi perlu dapat diukur setelah proyek berjalan.
Transparansi mengenai nilai proyek, progres pekerjaan, target penyelesaian, hingga hasil pembangunan juga penting agar pembiayaan infrastruktur tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi warga Surabaya.













