Mayoritas berasal dari wilayah seperti Madura, Tapal Kuda, Jawa Tengah, hingga Indonesia Timur. Meski pertumbuhan alami hanya sekitar 0,5 hingga 1 persen per tahun, lonjakan urbanisasi musiman menjadi faktor utama yang mempercepat tekanan terhadap kota.
Di sisi lain, daya tarik Surabaya sebagai pusat industri, perdagangan, dan jasa membuatnya menjadi magnet ekonomi di Jawa Timur. Namun, tidak semua pendatang memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja, sehingga banyak yang akhirnya terserap di sektor informal seperti UMKM, pekerja lepas, dan jasa rumah tangga.
Kondisi ini berpotensi menimbulkan berbagai persoalan, mulai dari meningkatnya pengangguran, permukiman padat, hingga kemiskinan perkotaan, jika tidak diimbangi dengan pengendalian urbanisasi dan pemerataan pembangunan di daerah asal. (caa)












