Cakrawala PolitikPilihan Redaksi

Catatan Akhir Tahun: Arif Fathoni Bedah Kinerja Surabaya dan Konsistensi Golkar

×

Catatan Akhir Tahun: Arif Fathoni Bedah Kinerja Surabaya dan Konsistensi Golkar

Sebarkan artikel ini
Arif Fathoni
Arif Fathoni

Dalam Pemilukada tahun 2024, DPP Partai Golkar melalui surat keputusan yang ditandatangani Ketum Bahlil Lahadalia dan Sekjen Muhammad Sarmudji mengusulkan Eri Cahyadi–Armuji sebagai pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Surabaya periode 2024–2029.

Maka, menjadi kewajiban bagi Partai Golkar tidak hanya berjuang memenangkan hati rakyat dalam Pemilukada, namun juga mendorong dan mendukung aktif pasangan yang telah diusung tersebut melaksanakan segala visi misinya. Karakter setia kawan tersebut kita tunjukkan melalui karya nyata pengawalan kebijakan, melalui suka duka secara bersama dalam melayani Surabaya. Sebagaimana yang disampaikan Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia, koalisi itu bukan sana senang sini senang, in-out, ketika pemimpin terpuruk kita menjauh, ketika senang kita mendekat, itu bukan karakter kader Golkar.”

Tanya: Apakah Golkar pernah mengkritik Eri–Armuji?

Arif Fathoni:
“Sering kali dalam pertemuan tertutup kita memberikan saran, masukan hingga kritikan, karena kita meyakini tiada pemimpin yang sempurna. Kritik dan saran tersebut semata-mata agar Mas Wali Kota menyempurnakan capaian baiknya.

Sebagai seorang kawan koalisi kita berpijak pada ajaran agama, siarkanlah kebaikan kawanmu ke khalayak ramai, simpan keburukan temanmu cukup untuk dirimu sendiri.”

Tanya: Bagaimana Anda melihat relasi Wali Kota dan Wakil Wali Kota?

Arif Fathoni:
“Sejauh ini saya melihat, Mas Eri Cahyadi dengan Cak Armuji relasinya baik, saling mengisi dan saling menyempurnakan segala capaian yang telah ditetapkan bersama. Tidak ada isu keretakan. Bahwa ada pasang surut dalam hubungan itu hal biasa. Rumah tangga saja khan kadang ada perbedaan pandangan, apalagi pasangan kepala daerah dengan wakil kepala daerah.”

⦁ Regenerasi Golkar Surabaya: Stabil, Tanpa Pergeseran Arah

Pergantian kepemimpinan Golkar Surabaya ke dr. Akmarawita Kadir melahirkan karakter kepemimpinan yang berbeda, dan kondisi tersebut bisa menjadi persimpangan apakah Golkar mengubah arah koalisi dengan Pemkot.

Tanya: Apakah kepemimpinan baru Golkar akan menata ulang hubungan politik dengan Wali Kota?

Arif Fathoni:
“Secara fundamental saya pikir tidak, karena saya melihat hubungan Wali Kota dengan dr Akmarawita Kadir juga baik, komunikasinya berlangsung sangat cair tidak ada perubahan. Namun saya percaya setiap pemimpin punya ciri khas masing-masing dalam menjawab tantangan zaman yang berubah. Insya Allah Golkar tidak akan luntur komitmennya dalam mengantarkan pasangan Eri Cahyadi-Armuji dalam melayani warga Surabaya.”

Tanya: Bagaimana Anda membagi peran sebagai Wakil Ketua DPRD Surabaya dan Wakil Ketua Golkar Jawa Timur?

Arif Fathoni:
“Kalau urusan politik Surabaya, saya hanya memberi saran saja kepada Mas Ketua dr Akmarawita Kadir kalau beliau meminta, dan tetap di DPRD Surabaya saya melaksanakan kebijakan apa yang telah ditetapkan oleh Ketua DPD Partai Golkar Kota Surabaya dr Akmarawita Kadir.

Karena saat ini saya diberi amanah oleh Ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur DR H Ali Mufti sebagai salah seorang Wakil Ketua, maka saya akan mencurahkan seluruh energi yang saya miliki untuk membantu beliau dalam mengantarkan bahtera yang bernama Partai Golkar Jawa Timur ke pelabuhan yang telah ditetapkan oleh Ketua Ali Mufti.”

Di bagian akhir wawancara, Arif Fathoni menatap pembangunan Surabaya dengan nada optimistis sekaligus realistis. Baginya, fondasi yang hari ini dibangun adalah modal utama bagi kota untuk naik kelas dalam beberapa tahun mendatang. Catatan akhir tahun ini menjadi pengingat bahwa perjalanan Surabaya menuju 2028 bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga tentang konsistensi, kolaborasi, dan karakter kepemimpinan yang dijaga oleh koalisi dan masyarakatnya.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *