Menjelang penghujung tahun 2025 ini, Surabaya bergerak dalam ritme perubahan yang tidak lagi pelan. Beragam pembangunan digarap serempak, tantangan kota diurai perlahan, dan dinamika politik lokal berjalan stabil.
Di tengah momentum ini, Arif Fathoni tokoh Golkar Surabaya yang kini duduk di kursi pimpinan DPRD menjadi Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya membuka catatan akhir tahunnya.
Lewat perbincangan panjang dan mendalam, ia memotret arah pembangunan, pekerjaan rumah kota, hingga loyalitas politik koalisi. Berikut petikan wawancara lengkapnya:
⦁ Arah Kebijakan Kota: Fondasi Pembangunan Kian Terstruktur
Fondasi pembangunan yang kuat akan menentukan kemampuan Surabaya dalam menjawab tantangan beberapa tahun ke depan, terutama menjelang peran baru sebagai pintu gerbang IKN.
Tanya: Bagaimana jalannya pemerintahan Surabaya di bawah kepemimpinan Eri Cahyadi–Armuji?
Arif Fathoni:
“Sejauh ini berdasarkan apa yang tertuang dalam RPJMD dan terimplementasikan dengan baik dalam APBD, kita melihat goodwill pemimpin yang akan membawa Surabaya menjadi kota yang berdaya saing global. Pembangunan infrastruktur strategis dan pembangunan pemukiman dikerjakan secara bersamaan dan berkesinambungan, perencanaan kota dibuat sedetail mungkin agar terkoneksi satu sama lain.
Dengan demikian Surabaya benar-benar akan siap menjadi pintu gerbang Ibu Kota Nusantara yang akan menjadi ibu kota politik tahun 2028 mendatang.”
⦁ Banjir dan Kemacetan: Dua Masalah Menahun
Banjir dan kemacetan adalah dua masalah yang dalam penyelesaiannya memiliki tantangan yang berat, ada langkah-langkah fundamental yang harus disiapkan oleh pemerintah kota.
Tanya: Soal penanganan banjir dan kemacetan bagaimana, apakah sejauh ini sudah cukup?
Arif Fathoni:
“Problem perkotaan memang soal banjir dan kemacetan. Kalau kita lihat postur APBD kita, upaya penanggulangan banjir anggarannya cukup besar tanpa mengganggu mandatory spending dalam bidang pendidikan. Saluran diperbaiki, rumah pompa diperbanyak. Jika dulu saluran air tidak terkoneksi satu sama lain karena rencana pembangunan parsial, sekarang diperbaiki agar saluran air yang ada menjadi sarana air mengalir ke laut.
Memang, ketika hujan deras di beberapa tempat masih banjir, mudah-mudahan setelah pekerjaan infrastruktur pengendalian banjir selesai di tahun 2026 mendatang, genangan air dapat diatasi dengan baik di 2027.”
Tanya: Jika hujan deras, sampah dari hulu sering terbawa ke Surabaya. Apa pandangan Anda?
Arif Fathoni:
“Surabaya secara geografis berada di daerah hilir atas sungai-sungai yang membentang dari daerah lain. Kita juga sering mengalami air laut naik atau rob. Untuk itu, membangun kesadaran kolektif masyarakat agar tidak membuang sampah di sungai menjadi keharusan. Pemerintah bangun infrastrukturnya, Dinas Lingkungan Hidup harus berkolaborasi dengan para pegiat media sosial untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai.
Kalau anjuran itu hanya dibuat pemerintah, hanya akan dianggap angin lalu. Tapi kalau kesadaran itu digelorakan dari rakyat sendiri, Insya Allah warga Surabaya akan menjadi “pagar ayu” dalam melindungi kebersihan sungai, agar penanganan banjir tidak terganggu dan ekosistem sungai dapat terpelihara dengan baik. Sehingga kita mewariskan ke anak cucu kita kelak sungai yang bersih, tempat bermain yang nyaman sebagaimana masa kecil para pendahulu kita.”
⦁ Mobilitas Kota dan Transportasi Publik
Kemacetan terus membesar seiring pertumbuhan kendaraan. Kehadiran transportasi publik yang mulai diperkuat Pemkot harusnya menjadi sinyal bahwa pergeseran perilaku masyarakat suatu saat bisa terjadi.











