Cakrawala SurabayaIndeks

Menyalakan Kembali Eks Hi-Tech Mall: Strategi Monetisasi Aset untuk PAD Surabaya

×

Menyalakan Kembali Eks Hi-Tech Mall: Strategi Monetisasi Aset untuk PAD Surabaya

Sebarkan artikel ini
Eks Hi tech Mall dengan wajah baru
Eks Hi tech Mall dengan wajah baru

Jarum jam masih belum sepenuhnya menunjukkan waktu tengah hari. Namun, matahari pada Selasa 07 Oktober 2025 sangat terik, seiring denyut kota Pahlawan yang makin kencang. Aroma minyak goreng pun turut menyeruak, bersumber dari wajan penjual gorengan yang menjajakan dagangannya di tepi Jalan Kusuma Bangsa.

Usai membelah riuh lalu lalang kendaraan dan suara klakson memekik keras, bangunan empat lantai berdiri kokoh langsung menyambut.  Terlihat tulisan “THR iTMall Surabaya” dengan cat yang tampak masih baru, mencolok terpasang di fasad bangunan. Gedung yang dibangun sejak tahun 1986 dan rampung ditahun 1989 itu awalnya bernama Surabaya Mall dan berganti menjadi Mega Mall tetapi di awal tahun 2000-an nama Hi-Tech Mall mulai digunakan.

Meski menyandang nama Mall, tetapi tak terlihat riuh pengunjung yang ada. Di pintu masuk area parkir, dua petugas berseragam Dinas Perhubungan Kota Surabaya tampak berjaga. Satu duduk menyambut kendaraan untuk parkir, satu lagi menyeka peluh di bawah terik matahari.

Harga karcisnya sama dengan Mall lainnya Rp3000 sekali masuk. Namun, suasananya tak terlihat seperti tempat parkir pada umumya, hanya beberapa kendaraan yang terparkir berderet renggang. Meskipun, gedung ini menyediakan dua pintu masuk parkir yakni pintu utara dan pintu selatan.

“Paling banyak 150 kendaraan setiap harinya yang masuk. Kalau Sabtu dan Minggu malah sepi.” kata Fernando salah satu petugas Dinas Perhubungan sambil memegangi tumpukan karcis yang tertata rapi di atas meja kecilnya yang sederhana.

Fernando salah satu petugas Dishub saat melayani pengunjung
Fernando salah satu petugas Dishub saat melayani pengunjung

Dulu, saat hak guna usaha gedung ini dipegang oleh PT Sasana Boga, bangunan ini tersohor sebagai pusat perdagangan IT terbesar di Jawa Timur, dimana setiap akhir pekan lorong-lorong di dalamnya penuh sesak oleh pemburu komputer, teknisi, dan pelajar yang mencari printer, RAM, atau laptop.

Usai hak guna usaha bangunan yang masa berlakunya habis pada 31 Maret 2019 silam tak diperpanjang, suasana itu pelan namun pasti mulai lenyap. 

Kini hanya lantai satu yang ada aktivitas toko membuka lapaknya itupun tidak semua. Hal itu berbeda dengan beberapa lantai lainnya, suasana hening yang mendominasi sisanya, hanya lorong kosong dan deretan toko yang terkunci rapat dan berdebu.

Seperti dilantai dasar, yang hanya ada dua pekerja dari satgas Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman serta Pertanahan (DPRKPP) Kota Surabaya yang memperbaiki keramik yang terkelupas di beberapa sudut.

“Sepi, apalagi sejak ada pandemi,” ujar Iin salah satu penjaga toko laptop bekas yang masih bertahan. “Dengar-dengarnya sih, mau dibuka lagi, tapi belum tahu buat apa.” tuturnya sembari melanjutkan menarik pita perekat yang berukuran besar untuk membungkus kotak mirip sebuah paket di bibir toko.

“Sekarang, paling dua atau tiga orang datang dalam sehari.” Suaranya tenang, tapi matanya tak lepas dari lorong panjang yang berdebu, seperti mencari sisa masa lalu yang belum benar-benar hilang.

Sementara di luar sana, lalu lintas Jalan Kusuma Bangsa tetap ramai seolah kehidupan kota bergerak tanpa menoleh ke arah gedung yang dulu menjadi simbol kemajuan digital itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *