Program ini menjadi bagian dari platform besar bernama Surabaya Integrated Urban Planning Enhousing Command Center.
Iman menjelaskan bahwa konsep ini berfungsi sebagai pusat kendali terpadu untuk tata ruang, hunian, gedung, dan perizinan.
“Ini merupakan platform komando terpadu yang mendorong DPRKPP menuju governance by integration,” paparnya.
Menurutnya, Digital Twin sangat relevan bagi Surabaya karena kota ini sudah memiliki peta LiDAR (Light Detection and Ranging), namun pemanfaatannya masih terbatas.
“Di saat ini kota Surabaya sudah memiliki peta lidar namun saat ini masih belum dioptimalkan pemanfaatannya,” ujarnya.
Melalui Digital Twin, Iman menuturkan bahwa Surabaya dapat melakukan simulasi pembangunan kota secara real time.
“Di digital twin ini kita akan mencoba mengintegrasikan dengan skema yang sudah diatur oleh Perpres 79/2024, terkait pengelolaan, perolehan, peningkatan nilai kawasan,” jelasnya.
Iman juga menegaskan bahwa Digital Twin bukan sekadar visualisasi, tetapi alat penting untuk pengambilan keputusan presisi.
“Digital twin akan membantu mengukur nilai tambah kawasan, memilih infrastruktur yang paling efektif, pendanaan infrastruktur tanpa membebani APBD, kemudian transparansi dan akuntabilitas,” tegasnya.



