Henry juga mengungkapkan bahwa Heng Hok Soei menggunakan cara yang sama untuk menghindari pajak dan tidak membayar retribusi perusahaanya. Termasuk terbitnya surat-surat penting yang menurut Henry tanpa sepengetahuan dirinya.
“Ada rencana besar yang dibuat mereka (Asoei dan Teguh Kinarto), mereka mau ‘makan’ tanah saya. Dia sering menggunkan cara seperti ini. Nanti akan saya bongkar semuanya termasuk Heng Hok Soei juga tidak bayar retribusi perusahaanya selama tiga puluh tahun,” kata Henry.
Perkara lain juga disinggung Henry soal kesepakatan hutang-pihutang tanah 2,2 juta meter dengan Heng Hok Soei. Kemudian Heng Hok Soei juga melakukan hutang pihutang sebesar Rp 3,6 m tapi direkayasa dengan ikatan jual beli. Apalagi pada tahun 2005 juga terjadi peminjaman uang di Swiss Bank sebesar Rp 1 trilliun.
“Jadi perbandinganya beratus-ratus kali lipat. Ini sama hutang pihutang ternyata dibikin jual beli,,” katanya.
Hal yang sama dikatakan Henry juga terjadi dalam urusan Pasar Turi bahwa Teguh Kinarto seolah-olah meminjamkan uang padahal nantinya dipakai sendiri karena berstatua Dirut PT GBP. “Jadi uangnya dipakai dia sendiri,” cetusnya.












