“Pola pembersihan yang manual menghabiskan banyak anggaran. Maka, maintenance itu harus dirancang dengan pendekatan modern. Saluran harus kembali pada fungsi utamanya: menyalurkan air, bukan menjadi penampung lumpur,” tegas legislator dari Fraksi Golkar tersebut.
DPRD meyakini bahwa pendekatan berbasis inovasi dan teknologi dalam tata kelola saluran air adalah bagian integral dari percepatan pelayanan publik.
Hal ini, kata Ahmad juga sejalan dengan semangat Pemkot Surabaya yang tengah mendorong efisiensi pelayanan melalui berbagai inovasi dengan terobosan digital dan alat berbasis teknologi.
“Salah satu langkah konkret kami akan perkuat dan membahas penguatan sistem penanganan dan perawatan saluran air melalui penggunaan alat-alat modern dalam Raperda Penanggulangan Banjir yang tengah kami bahas. Ini penting sebagai arah pemerintah kota dalam penanggulangan banjir melalui pembersihan, pemeliharaan, hingga pemantauan kondisi saluran dan gorong-gorong secara berkala” pungkasnya.













