Agung menegaskan, IPM sebagai organisasi kader Muhammadiyah siap turut ambil bagian dalam pengawasan di tingkat akar rumput.
Melalui komunitas-komunitas seperti “Pelajar Mengajar” dan “Tutor ASPAS”, IPM berupaya menyediakan ruang-ruang alternatif yang mendidik dan produktif bagi para pelajar.
Kebijakan jam malam ini, menurut Agung, justru membuka peluang untuk mendisiplinkan pelajar dan memperkuat ruang sosialisasi yang sehat.
“Kami memahami pelajar perlu ruang berekspresi. Tapi tanpa pengawasan yang intensif dari keluarga maupun lingkungan, remaja rentan mencari pelarian di tempat yang salah. Maka, kebijakan ini bisa menjadi pagar yang mengarahkan,” imbuhnya.












