Ia menyebut, sejumlah faktor yang menyebabkan rendahnya minat penumpang, seperti terbatasnya jadwal penerbangan yang hanya tersedia dua kali seminggu—Rabu dan Jumat—serta hanya dilayani oleh satu maskapai, Citilink.
Selain itu, harga tiket dinilai lebih mahal dibandingkan penerbangan dari Bandara Juanda Surabaya di Sidoarjo. “Hal ini menjadi salah satu penyebab calon penumpang yang berada di seputaran Kediri raya lebih memilih alternatif lain yang lebih fleksibel dan ekonomis meski harus menempuh jarak lebih jauh termasuk ketika harus ke Bandara Juanda,” ujarnya.
Khusnul juga mengingatkan, potensi makin lesunya Bandara Dhoho setelah selesainya proyek Tol Kertosono–Tulungagung. Akses tol ke Juanda yang makin mudah, menurutnya, akan memperkuat preferensi masyarakat menuju bandara di Sidoarjo tersebut.
Untuk itu, ia mendorong adanya evaluasi menyeluruh yang melibatkan akademisi, praktisi, dan pemangku kepentingan di 13 daerah penyangga Bandara Dhoho.
“Minim kolaborasi dan dukungan dari pemerintah daerah penyangga ini salah satunya dilatarbelakangi oleh kurangnya campur tangan dari Pemprov Jatim sebagai jembatan ataupun mediator atau fasilitasi penghubung antara Kabupaten Kediri dengan 13 daerah penyangga bandara,”katanya Khusnul Arif politisi asal Kediri ini.
Menurutnya, 13 daerah tersebut tidak boleh lepas tangan. Mereka juga harus ikut mengembangkan potensi wisata dan industri di wilayah masing-masing agar bisa menciptakan daya tarik yang mendukung hidupnya bandara.












