“Yang disentuh saluran pemukiman dulu lewat jasmas. Akhirnya kan saluran di jalan raya tak mampu menampung aliran dari pemukiman,” papar Politisi Partai Nasdem.
Anggota Komisi C ini berharap, proses pembanguann saluran berkelanjutan, agar bisa mengendalikan banjir di kawasan yang selama ini langganan banjir.
Selain itu, kegiatan pembersihan saluran juga harus intensif dilakukan supaya bisa kapasitasnya bertambah.
“Surabaya ini kan letaknya agak rendah, jika air laut pasang saluran yang ada tak mampu menampung aliran air,” katanya.
Awey menegaskan, untuk menanggulangi banjir, system drainase masterplan harus terencana dengan baik, berkesinambungan, tidak sporadis.
“Jangan harap (warga) Surabaya tidur dengan tenang pada musim hujan, jika cara kerja sporadis. Mereka (SKPD) punya peta banjir. Tiap tahun kita dikasih data, benar tidaknya kita tak tahu?” tutur Awey.
Pada tahun 2017, Anggaran Dinas PU Bina Marga dan Pematusan sebesar Rp. 1.058 triliun. Hingga Oktober lalu terserap Rp. 438,3 milyar atau 41,4 persen.



