“Sejak awal harus sudah bekerjasama dengan imigrasi Saudi untuk melakukan screening atau semacam clereance bahwa seluruh jemaah haji kita bersih. Sebab Saudi sekarang ketat,” katanya.
“Mereka yang pernah melakukan tindakan pelanggaran hukum, sekarang bisa berpotensi ada masalah saat masuk ke Saudi,” lanjutnya.
Catatan ketiga tentang rencana perubahan sistem sewa hotel di Madinah. “Ini bagian yang perlu kita dalami, dari blocking time rencananya akan diubah jadi sewa musim,” ucapnya.
Catatan keempat terkait penambahan kuota petugas, dan itu juga diperlukan lobby. Tahun ini, kuota petugas hanya 3.500, dan itu terbukti belum mampu mengimbangi banyaknya jemaah haji Indonesia.
Hal kelima yang menjadi catatan evaluasi adalah perlunya ruang rawat khusus di bandara, Jeddah dan Madinah. “Sebaiknya tahun depan selain kantor Daker, ada ruang khusus bagi jemaah yang memerlukan ruangan lebih layak saat menghadapi kendala kesehatan,” katanya.
Keenam, pemerintah akan mengupayakan agar bus pengantar jemaah ke Masya’ir (Arafah – Muzdalifah – Mina) bisa diupgrade. Evaluasi tahun ini, banyak jemaah Indonesia yang menggunakan bus tua.
“Meski jaraknya tidak panjang, karena macet, ini perlu jadi perhatian kita,” terangnya. Selama ini, angkutan Masya’ir menjadi kewenangan penuh pemerintah Saudi.












