Teknologi yang dikembangkan untuk Satelit LAPAN A5 ini, lanjutnya, merupakan teknologi microsatelit canggih pertama di dunia yang menggunakan Synthetic Aperture Radar (SAR). Yakni merupakan bentuk radar yang digunakan untuk membuat gambar objek dua dimensi atau tiga dimensi, seperti landscape. SAR merupakan bentuk lanjutan dari Side Looking Airbone Radar (SLAR). Biasanya SAR dipasang pada platform yang bergerak, seperti pesawat terbang atau pesawat ruang angkasa.
Pada kesempatan yang sama, Prof Josaphat dari Center for Environmental Remote Sensing, Chiba University, Jepang menjelaskan bahwa SAR memiliki frekuensi 1-40 Giga hertz. Sedangkan panjang gelombang yang dihasilkan adalah 1 cm – 1 m lebih panjang dari butiran air di awan. “Dengan frekuensi dan panjang gelombang tersebut, dengan teknologi SAR ini dapat menembus awan, kabut, maupun asap yang menghalangi sensor,” papar Josaphat lagi.
Kelebihan lain dengan digunakannya SAR, imbuh Prof Josaphat, adalah saat penggunaan satelit pada malam hari. Sumber cahaya satelit ini berasal dari satelit sendiri sehingga apapun waktunya, satelit dapat tetap menghasilkan citranya. “Mulai dari intensity, fase, polarisasi, semua infonya dapat. Kita juga bisa mengetahui jarak dari suatu objek, akurasinya hanya beberapa sentimeter,” ungkap pria kelahiran Bandung tersebut.
Bahkan menurut Prof Josaphat, teknologi tersebut juga dapat melakukan mapping air bawah tanah. Teknologi SAR tentu jauh lebih baik dan dapat menghasilkan citra lebih baik daripada teknologi konvensional.
Ketika ditanya soal resolusi satelit, Prof Josaphat menjawab bahwa semua kembali lagi pada bandwidth (lebar pita, red). “Makin lebar bandwidth-nya, maka makin kecil resolusinya,” tutur pendiri yayasan Pandhito Panji Foundation tersebut. Bandwidth sendiri dalam teknologi komunikasi merupakan perbedaan antara frekuensi terendah dan frekuensi tertinggi dalam rentang tertentu.












